Sumber: Afandi Supriyanto, Asian Maritimes geopolitik and indonesian security, the Jakarta post, October, 17th 2011, Singapura.
Dibuat oleh: Khairunnisa Restian Lubis, NIM 1111113000072, 1-B, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UIN Syarif Hidayatullah (Angkatan 2011).
Opini yang dimuat pada harian The Jakarta Pos, 17 oktober 2011, karya Restian Afandi Supriyanto mengupas perdagangan antara Cina dan India yang melewati kawasan maritim Indonesia, yakni selat malaka. Adanya perdagangan internasional di perairan Indonesia menimbulkan pengaruh politik yang penting bagi negara Indonesia. Restian menyarankan agar pertahanan maritim negara Indonesia lebih diperhatikan.
Asia maritim geopolitik dan keamanan Indonesia
Geopolitik berasal dari dua kata, yaitu “geo” dan “politik”. Maka pembahasan ini tidak terlepas dari masalah geografi dan politik. Dimana geografi mempersoalkan tata ruang, yaitu sistem dalam hal menempati suatu ruang di permukaan Bumi. Sedangkan politik, selalu berhubungan dengan kekuasaan atau pemerintahan. Geopolitik mengkaji makna strategis dan politis suatu wilayah geografi, yang mencakup lokasi, luas serta sumber daya alam wilayah tersebut.
Negara tidak akan pernah mencapai persamaan yang sempurna dalam segala hal. Keadaan suatu negara akan selalu sejalan dengan kondisi dari kawasan geografis yang mereka tempati. Hal yang paling utama mempengaruhi keadaan suatu negara adalah kawasan yang berada di sekitar negara itu sendiri, atau dengan kata lain, negara-negara di sekitarnya atau negara tetangga merupakan pengaruh yang paling besar.
Kekuatan suatu negara menyangkut Militer, ekonomi dan politik. Dimana diantara ketiga faktornya saling berhubungan, perdagangan merupakan salah satu cara suatu negara untuk menjalankan integrasi ekonomi regionalnya, juga pengaruh kuat militer dan politik sebagai grup pendukung untuk terjalinnya perdagangan yang aman dan terkendali dalam hubungan bilateral (geopolitik).
Penulis bependapat bahwa perdagangan internasional yang dilakukan antara negara cina dan india sangat agresif. Dalam melakukan perdagangan, mereka juga melakukan pertahanan militer yang sangat kuat.
Hal ini ditandai dengan India dan cina yang telah mulai memiliki angkatan laut perairan biru (blue water navy), telah menghidupkan kembali jalur perdagangan lama,yang telah mati selama 44 tahun karena konflik perbatasan. Daerah perbatasan yang ada di kawasan Pegunungan Himalaya dengan ketinggian 4.545 meter di atas permukaan laut itu termasuk bagian dari jalur perdagangan masa lalu yang bersejarah dan dikenal sebagai "Jalan Sutra". Jalur Jalan Sutra itu dikenal karena pernah menghubungkan China dengan India, Asia Barat, dan Eropa.
Cina akan mengeluarkan kapal yang dirancang dan dibangun sendiri,yaitu pesawat AWACS-nya, dan jet-jet pemburu yang dirancang sendiri demi melindungi jalur pelayaran dan investasinya ke luar negeri. Karena sepanjang sejarah, kebijakan luar negeri dan militer negara-negara besar di tentukan oleh kebutuhan untuk melindungi pasokan komoditas.
Pentingnya perdagangan internasional bagi kesejahteraan ekonomi Cina memunculkan pertanyaan sejauh apa cina akan mengembangkan angkatan laut “perairan biru” untuk melindungi jalur-jalur komunikasi laut di perairan internasional. Cina mempunyai banyak alasan untuk mengembangkan angkatan laut perairan biru (angkatan laut yang sanggup menjaga jalur-jalur pelayarannya agar tetap lancar), yang sebagian besar perdagangan cina harus melintasi selat malaka, selarik laut antara pulau sumatera di Indonesia dan semenanjung Malaysia, serta Teluk Benggala, padahal kedua tempat ini bajak laut lebih giat daripada di mana pun.
Dengan alasan itu, Cina menyempurnakan kapal-kapal selamnya dan kapal induk yang bermesin konvensional. Karena melindungi jalur pelayaran memang sangat penting. Karena melihat perkembangan Cina, india juga meningkatkan kemampuan angkatan lautnya dengan kapal induk dan kapal selam rancangan sendiri. India akan mendirikan pangkalan laut baru di pantai timur India, dekat Visakhapatnam. Hal ini untuk menandingi pangkalan baru angkatan laut cina di Teluk Benggala dan untuk mengawasi jalur-jalur komunikasi laut India yang sekarang semakin penting. India juga sangat tergantung pada Selat Malaka, kira-kira setengah dari komoditas perdagangan internasionalnya melintasi Selat Malaka.
Lalu apa pengaruhnya terhadap Indonesia?
Menurut penulis, semakin berkembangnya perdagangan internasional antara cina dan india, pasti mempunyai beberapa pengaruh bagi Indonesia, positif maupun negatif. Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari hamparan ribuan pulau sepanjang 3,5 mil beranggapan bahwa laut tidak berfungsi sebagai pemisah, melainkan sebagai penyatu tanah air Indonesia.
Indonesia boleh bangga karena seperdelapan dari khatulistiwa merupakan wilayah Indonesia, akan tetapi sangat tidak menguntungkan jika ada pemahaman negara lain untuk melakukan ekspansi untuk merebut beberapa pulau kecil, yang jauh jangkauannya dari pemerintah pusat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah teritorial ini antara lain, geografi, kependudukan, serta kondisi sosial masyarakat. Yang menyangkut beberapa hal seperti; pembinaan wilayah untuk menciptakan ketahanan nasional, kesejahteraan dan keamanan negara, serta potensi hankam Indonesia lainnya.
Indonesia dengan letaknya yang strategis juga memperoleh beberapa keuntungan, seperti;
- Berpotensi menjadi jalur perdagangan Internasional;
- Dapat lebih memainkan peranan politisnya dalam percaturan politik Internasional;
- Lebih aman dan terlindung dari serangan-serangan negara kontinental (negara benua).
Penulis sependapat dengan saran yang diajukan Restian Afandi Supriyanto, bahwa Indonesia perlu meningkatkan kapabilitasnya menjadi negara terbesar di Asia Tenggara dan negara geografis maritim. Indonesia dapat menjadi ujung tombak upaya-upaya tersebut.
Akan tetapi mengacu dengan stabilitas politik di Indonesia, tampaknya I’tikad untuk menyusul konsep India-Cina tersebut dirasakan masih terlampau jauh. Seharusnya kita lebih mengkonsentrasikan perbaikan menyeluruh terhadap armada yang kita miliki sekarang, sebelum menggagaskan konsep baru (tiruan) yang terlampau massive.
Referensi
· Backman,Michael.Asia Future shock.Jakarta:Ufuk press.2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar